Padahal sudah lama awan senja terbenam
Saat malam tiba seperti teman dekat dengan sapa hangat
Membawakan mimpi - mimpi dalam erat tangan menggenggam
Bekal esok, perjalanan panjang bermandi keringat
Jangan katakan ini malam berwajah sunyi
Terang bulan dan gemerlap bintang tak terlihat
biarkan saja ! jika pelita kekal abadi
Dalam hati, permata yang terpahat
Puntung ini pahit, dan kopi terlanjur dingin
Rebah tubuh di tanah, atapnya angkasa sangat megah
Hanya gema, seiring bibir membeku ditiup sepoi angin
Terbang jauh, bersama asap juga suara dalam lidah
Langit mendung berwarna hitam campur merah
Bergelayut mesra di ujung tatapan mata sembab
Mungkin benar rintik hujan baru saja tumpah
Laksana diri, Aku menangis tiada sebab